SONGFIC_CHALLENGE JURNALISME

songfic_challenge_berdistraksiBERDISTRAKSI

i. Cerita ini tidak berhubungan sama sekali
   dengan plot milik #Galaris

ii. Untuk mendapatkan feel berlebih, bisa 
    sambil dengerin lagu "Berdistraksi" karya
    Danilla Riyadi



Kulewati sebuah rumah kosong dengan aku sebagai akara di dindingnya yang sudah mulai terkelupas.

Kumpulan batin asmara yang dulu menguar di sepanjang tempat duduk sederhana yang sengaja dipasang didekat pohon pinus sebagai peneduh alap, seolah memanggil tuk dibuat kenangan lagi.

Anila yang terhembus di selisik daun menghempaskan susunan batu yang masih berdiri tadi untuk terakhir kali. Susunan batu buatan dua insan buana satu windu lalu, yang sekarang dipisahkan sosok daksa lain.

Oh tidak kenangan itu benar benar melakukan demolisi saat ini.

Cukup sampai disini kilas balik buatanku, cukup daif bila aku mencari lagi dia yang gata digoda chandra, meninggalkan aku yang sebatas indurasmi semesta


───────────────── ·  ·  ·  · ✦

"Dita, surat yang ibu titipin ke kamu udah mau dikirim sekarang kan?" beliau, dengan pakaian bagusnya, lambang pancasila dikiri menandakan gelarnya sebagai sosok pendamping seorang abdi negara angkatan laut. aku tersenyum.

"Sudah bu, nanti kalau ibu mau berangkat, aku mau beres beres rumah terus lanjut ke kantor pos" disusul dengan jawabanku, ibu mulai mendekat dan menampakkan wajah renjana. 

"Dita, anakku yang palinggggg anindya diantara anak anak ibu yang lain, ibu tau senyuman yang sering kamu tunjukkan belakangan ini cuma bayangan kamu aja, ibu tau semua meski kamu sembunyikan serapat mungkin, ibu bisa tau dari aksamu, meskipun mulut kamu bisa berbohong, tindakan kamu bisa berbohong, tapi kamu tetap gak bisa menutupi itu dari aksamu, bahkan, semut kecil pun tau kamu dirundung mendung sekarang"

Mataku yang sedari tadi menyala segar, kini meredup mendengar bisikan ibu.

memang aku tak pandai berbohong seperti orang orang, terlebih dia yang banyak memberiku setumpah ruah dama, setelah itu menarik euforia hingga sampai sekarang menyisakan luka yang tak ekuivalen ketimbang kelakuan bejatnya

───────────────── ·  ·  ·  · ✦


"Radita haningdyaswara" aku melangkah ke sumber suara, perempuan dengan polesan wajah tebalnya, menyodorkan secarik blangko penyerahan, kutulis yang kutahu saja, kukembalikan beserta surat titipan ibu. Setelah bubuhan tanda tangan sebagai penutup, aku segera beranjak dari meja tinggi yang selalu ditunggu tunggu itu.

Langkah kaki yang awalnya damai, tiba tiba terhenyak akan suatu tamparan kenyataan.

Dia datang kembali, mengambil seluruh kenangan yang kubuang tempo hari lalu kembali tertata di dasar kalbu.

───────────────── ·  ·  ·  · ✦


Aku tertawa dengan kumparan waktu 5 menit terakhir tadi.

Tentang dia yang kembali menampakkan wajah nya tepat dimata ruciraku.

Tangan kanannya yang tak kosong lagi.

Tertaut tangan mulus nan putih beserta cincin perak di lingkaran jari manis keduanya.

"Halo Dita, gimana kabarnya? Ibu sama kakak kamu sehat sehat aja kan? Lama banget kita gak jumpa?" lubang kecil yang muncul ketika ia melengkungkan bibirnya masih membayang di alam bawah sadar.

Aku tersenyum manis dan mengulurkan tangan

"Baik baik aja, masih sama kayak dulu, bedanya cuma masih sendiri, gak kayak kamu yang dari dulu langgeng langgeng aja" aku tertawa disusul kedua daksa didepanku yang tampaknya juga menertawai kebodohanku.

"Oh iya Dita, kami dalam kurun waktu sebulan lagi akan menikah, kamu datang ya, untuk kamu gak perlu pakai acara undang undangan, kamu kan teman dekat kita, semuanya beres"
perempuan disamping lelaki masa laluku tersenyum manis, cocok disandingkan dengan pria disebelahnya.

"Menikah?" batinku tak bisa berbohong, namun kucoba membalikkan realita. Aku tersenyum.

"Tentu aja aku bakal dateng, tapi kita kan udah gak pernah kontak kontakan semenjak..."
kalimatku terputus begitu saja.

Mereka terdiam, seolah baru saja mengingat kejamnya kelakuan mereka tempo dulu. 

Menelisik ke masa lalu, dimana bongkahan hati direbut masa depannya sendiri.






Dinding hening tadi kembali dipecahkan oleh suara bariton lelaki itu.

"Dita, undangannya aku kirim lewat email mu aja ya, aku harap kamu bisa dateng walau hanya sekadar memberi selamat barang lima menit saja, dan maaf aku sedang terburu buru, sampai jumpa" Lelaki itu pergi begitu saja dengan diikuti calon wanitanya.

Hening meninggalkan aku yang terdiam disudut kantor pos, dengan perasaan campur aduk, antara sendu untuk melihat dia bersama manisnya hidup bersama daksa pilihannya, juga antara aku yang berusaha memalingkan rindu terhadap lelaki yang sudah bukan hak milikku.
───────────────── ·  ·  ·  · ✦

Setibanya di pekarangan rumah, aku langsung terduduk di ayunan masa kecilku. Memikirkan kembali perihal percakapan yang berlangsung hampir 10 menit tadi bersama sosok masa laluku.

Mungkin ini memang saatnya aku benar benar melepaskan dia tanpa ada lagi harapan yang bisa aku gapai.

Sudah saatnya dia dimiliki oleh orang yang jelas bukan aku.

Sudah saatnya aku merelakan dia bersama orang yang jelas lebih baik dari aku.

"Memang ini yang kumau bukan? Dari dulu memang ini yang kumau, dia bahagia bersama yang lain, sedangkan aku cukup dalam garis hidup seperti ini saja hahahahahaha" aku tertawa memecah heningnya pekarangan sore ini.

Beruntungnya ibu dan Sadewa masih disibukkan dengan urusan mereka. Aku bisa bebas mengekspresikan keadaan hatiku yang sudah tak pantas diberi kata kata lagi.

Namun setelah seluruh logika ku terusss saja menertawakan ku, kenapa hati tak pernah sejalan dengan apa yang kumau, dia selalu merasa kehilangan yang berlebih, sendu nya terasa jelas, sudah pasti didalam sana mendung membumbung tinggi. 

Keadaan seperti ini 

Selalu saja

Membuatku merasa, kalau sebenarnya, logika ku yang tampak baik baik saja bahkan penuh kekonyolan, hanyalah wujud berdistraksi dari hati gulana dan penuh kekacauan.




#ONESHOOT
#JURNALISME
#SONGFIC_CHALLENGE

Komentar